chit chat
22 November 2009
krisis
Gue merasa kurang puas dengan hidup yang gue jalani sekarang.
Tapi, sepertinya gue hanya punya dua pilihan:
1. Melakukan perubahan revolusioner
2. Mengusahakan untuk puas dengan yang sudah dijalani
Yang pasti cuma duduk menunggu bukan pilihan bijak.
Bingung juga kenapa tiba-tiba merasa nggak puas begini, ya? Krisis usia menengah? Bisa jadi.. Gue mesti tanya ke temen-temen lain, siapa tahu ada yang senasib.
Tapi, sepertinya gue hanya punya dua pilihan:
1. Melakukan perubahan revolusioner
2. Mengusahakan untuk puas dengan yang sudah dijalani
Yang pasti cuma duduk menunggu bukan pilihan bijak.
Bingung juga kenapa tiba-tiba merasa nggak puas begini, ya? Krisis usia menengah? Bisa jadi.. Gue mesti tanya ke temen-temen lain, siapa tahu ada yang senasib.
18 November 2009
Habakuk
Belajar dari Habakuk:
Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
pohon anggur tidak berbuah,
hasil pohon zaitun mengecewakan,
sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,
kambing domba terhalau dari kurungan,
dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,
beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
~bisa, apa?
Sekalipun pohon ara tidak berbunga,
pohon anggur tidak berbuah,
hasil pohon zaitun mengecewakan,
sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan,
kambing domba terhalau dari kurungan,
dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN,
beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
~bisa, apa?
09 October 2009
numb
After three months living in a constant fear, I now am living in a daze. I work, I laugh, I play, but I don't know how I feel. I was broken hearted once. I still remember how it felt. There was this aching in my heart that it hurt just to breath. But now I don't feel anything. Just this numbness that accompanies me everywhere. They say that it is good to be able to feel pain. It means you are still alive. But this painless ache is unbearable. I ache, but I can't tell where it hurts. Numb.
28 September 2009
terima kasih
Terima kasih untuk kata-kata penghiburan.
Terima kasih untuk kehadiran.
Terima kasih untuk pelukan (di saat kami betul-betul membutuhkannya).
Terima kasih untuk bantuan untuk pengadaan segala sesuatu, karena kami tidak dapat berpikir jernih.
Terima kasih untuk nasihat dan masukan.
Terima kasih.
Terima kasih untuk kehadiran.
Terima kasih untuk pelukan (di saat kami betul-betul membutuhkannya).
Terima kasih untuk bantuan untuk pengadaan segala sesuatu, karena kami tidak dapat berpikir jernih.
Terima kasih untuk nasihat dan masukan.
Terima kasih.
21 August 2009
lupa-lupa ingat?
To forgive is to forget? Bisakah? Atau lebih jauh lagi: benarkah?
Bener nggak sih, kalau kita udah bisa ngelupain suatu kesalahan seseorang, artinya kita udah memaafkan orang itu? Soalnya sering ngerasa bahwa hal-hal yang gue nggak bisa inget, tapi kesannya masih terasa.
Misalnya seperti mikir: gue nggak tau ya, kenapa gue bisa menganggap si A nggak bisa dipercaya, gue nggak inget tindakan apa yang dia lakukan sampai gue punya pikiran seperti itu, tapi yang gue tau, si A nggak bisa dipercaya.
Atau seperti misal kalau ditanya kenapa gue males ngomong sama si B, gue mungkin bisa jawab bahwa si B omongannya suka kasar dan menyinggung perasaan. Tapi, kalau ditanya lebih lanjut contoh omongannya yang menyinggung perasaan, gue nggak bisa kasih satu contoh pun. Lupa. Nah, itu artinya apakah gue sudah memaafkan si A atau si B? Gue rasa nggak. Gue lupa kesalahan-kesalahannya secara spesifik, jelas. Tapi memaafkan sih rasanya nggak, karena gue masih menyimpan kesan dari kesalahannya, bukan di memori gue lagi, tapi di ... entah di mana.
Jadi gue mau mengajukan petisi terhadap petuah: to forgive is to forget.
Soalnya suatu kesalahan itu mencoreng bukan cuma sebatas memori, tapi lebih dalam dari itu.
Bener nggak sih, kalau kita udah bisa ngelupain suatu kesalahan seseorang, artinya kita udah memaafkan orang itu? Soalnya sering ngerasa bahwa hal-hal yang gue nggak bisa inget, tapi kesannya masih terasa.
Misalnya seperti mikir: gue nggak tau ya, kenapa gue bisa menganggap si A nggak bisa dipercaya, gue nggak inget tindakan apa yang dia lakukan sampai gue punya pikiran seperti itu, tapi yang gue tau, si A nggak bisa dipercaya.
Atau seperti misal kalau ditanya kenapa gue males ngomong sama si B, gue mungkin bisa jawab bahwa si B omongannya suka kasar dan menyinggung perasaan. Tapi, kalau ditanya lebih lanjut contoh omongannya yang menyinggung perasaan, gue nggak bisa kasih satu contoh pun. Lupa. Nah, itu artinya apakah gue sudah memaafkan si A atau si B? Gue rasa nggak. Gue lupa kesalahan-kesalahannya secara spesifik, jelas. Tapi memaafkan sih rasanya nggak, karena gue masih menyimpan kesan dari kesalahannya, bukan di memori gue lagi, tapi di ... entah di mana.
Jadi gue mau mengajukan petisi terhadap petuah: to forgive is to forget.
Soalnya suatu kesalahan itu mencoreng bukan cuma sebatas memori, tapi lebih dalam dari itu.
04 June 2009
every nightmare has a morning after
At least that's what I hope.
There's got to be a morning after
If we can hold on through the night
We have a chance to find the sunshine
Let's keep on lookin' for the light
Oh, can't you see the morning after
It's waiting right outside the storm
Why don't we cross the bridge together
And find a place that's safe and warm
It's not too late, we should be giving
Only with love can we climb
It's not too late, not while we're living
Let's put our hands out in time
There's got to be a morning after
We're moving closer to the shore
I know we'll be there by tomorrow
And we'll escape the darkness
We won't be searchin' any more
(All Kasha and Joel Hirshhorn)
There's got to be a morning after
If we can hold on through the night
We have a chance to find the sunshine
Let's keep on lookin' for the light
Oh, can't you see the morning after
It's waiting right outside the storm
Why don't we cross the bridge together
And find a place that's safe and warm
It's not too late, we should be giving
Only with love can we climb
It's not too late, not while we're living
Let's put our hands out in time
There's got to be a morning after
We're moving closer to the shore
I know we'll be there by tomorrow
And we'll escape the darkness
We won't be searchin' any more
(All Kasha and Joel Hirshhorn)
24 April 2009
buaya darat
Ini topik yang emang lagi heboh-hebohnya di Jakarta. Antri belanja Crocs di SenCi, selama 5 hari. Jualan di lantai 8, antrinya mulai dari lantai 5. Gue bingung gimana ngantrinya. Apa ngantri di tangga darurat, ya? Kan nggak mungkin antri di eskalator? Kecuali tangganya nggak dijalanin. Hebat, antri bela-belain selama 3 jam-an, trus beli 8 - 10 pasang sendal. Malah barusan gue denger temennya temen gue ada yang beli sampai 12 pasang! Heboh, bener.
Kerasa miris juga, di tengah-tengah kondisi yang katanya resesi global ini, banyak orang kena PHK, malah ada yang udah di-PHK tapi nolak, malah namanya masuk berita di detik, trus nama lengkap sak gaji-gajinya ditulis di berita itu (akhirnya angka gajinya dihapus sih, dari artikel tersebut, tapi setelah sehari berita itu udah beredar), tau-tau di sisi lain ada orang ngambur-ngamburin uang untuk hal-hal yang "kurang penting". Tapi lagi, penting atau nggak penting emang beda-beda untuk tiap orang. Dan uangnya juga uang mereka sendiri buat belanja (mudah-mudahan bukan uang hasil korupsi, penipuan, penggelapan, atau lain-lainnya).
Cuma bingung aja. Beli sendal 12 pasang sekaligus buat apaan, ya? Mungkin emang untuk dijual lagi, atau memang banyak temen/kerabat yang nitip beli. Tapi kok ya....
ya itu tadi: miris.
Ada lagi antri diskonan Felice. Sama juga, antri bela-belain sebelum jam buka toko. Niat ya, buat beli berlian! Mungkin maksudnya mau merasa senasib sepenanggungan sama teman-teman yang antri sembako atau blt atau beli minyak tanah, ya?
Entahlah...
Kerasa miris juga, di tengah-tengah kondisi yang katanya resesi global ini, banyak orang kena PHK, malah ada yang udah di-PHK tapi nolak, malah namanya masuk berita di detik, trus nama lengkap sak gaji-gajinya ditulis di berita itu (akhirnya angka gajinya dihapus sih, dari artikel tersebut, tapi setelah sehari berita itu udah beredar), tau-tau di sisi lain ada orang ngambur-ngamburin uang untuk hal-hal yang "kurang penting". Tapi lagi, penting atau nggak penting emang beda-beda untuk tiap orang. Dan uangnya juga uang mereka sendiri buat belanja (mudah-mudahan bukan uang hasil korupsi, penipuan, penggelapan, atau lain-lainnya).
Cuma bingung aja. Beli sendal 12 pasang sekaligus buat apaan, ya? Mungkin emang untuk dijual lagi, atau memang banyak temen/kerabat yang nitip beli. Tapi kok ya....
ya itu tadi: miris.
Ada lagi antri diskonan Felice. Sama juga, antri bela-belain sebelum jam buka toko. Niat ya, buat beli berlian! Mungkin maksudnya mau merasa senasib sepenanggungan sama teman-teman yang antri sembako atau blt atau beli minyak tanah, ya?
Entahlah...
